menunavigasihorisontal

Gambar Bergerak

Header

Header

Minggu, 30 Januari 2011

Dari Sahabat Jadi Cinta

Dari sahabat Jadi Cinta
Dulu, aku mempunyai seorang sahabat, cowok namanya “Ardi”. Dia adalah temen sekolahku sejak SMP Kelas 1, Aku selalu satu kelas sama dia. Aku sering memanggilnya dengan “Oni” dan dia juga memanggil namaku “Oneng”. Oni menganggap aku sebagai adik, aku pun juga menganggapnya kakak yang sangat berguna bagiku. Agar kita lebih akrab gitu. Aku dan Oni selalu maen bareng, baik di sekolahan maupun diluar sekolah, meskipun rumah kita agak jauhan. Tapi tidak ada beban diantara kita. Dia begitu baik, tidak sombong, dan anaknya juga pintar. Aku selalu kagum dengannya.

Setiap hari, aku selalu bersamanya, kemanapun aku pergi selalu ditemani Oni, kita selalu berdua mungkin hampir setiap hari aku menghabiskan waktu dengannya. Entah kenapa, setiap aku berada disampingnya terasa nyaman, rasanya tidak ingin lepas darinya. Aku dan Oni saling membutuhkan satu sama lain. Emmmmmm….Oni sering banget curhat semua masalah yang dialaminya kepadaku, Oni sudah mempercayai aku, aku juga percaya kepadanya.

Oni pernah mengalami problem dengan gadis cantik yang disukainya, sampai-sampai dia bergegas ingin memilikinya. Aku selalu membantunya supaya gadis yang diimpikannya menjadi miliknya. Karena aku nggak mau lihat Oni sedih, soalnya kalau kita sedang sedih, susah, senang kita lalui bersama. Aku sangat menyayangi Oni, tapi entah kenapa, rasanya aneh, 3 tahun kita mengenal, tentang cewek yang Oni taksir, aku jadi nggak suka, perasaanku berubah menjadi marah. Aku merasa jealous (cemburu), ku rasa aku jatuh cinta padanya. Emm…..rasanya tidak mungkin kalau aku cinta sama Oni, padahal kita sudah janji, bahwa akan menjadi sahabat sejati untuk selamanya. “Tuhan…..apakah aku salah menyukainya!!”

Begitu juga aku, setiap cerita tentang cowok yang aku sukai, kayaknya Oni itu marah sampai-sampai pura-pura nggak mendengarkan omongan aku dan mengalihkan pembicaraan.

Akhirnya aku marah dan kesal, “Ehhhh…..kamu tuh yach, nggak dengerin aku ngomong, malah asyik sendiri maen PS, udahlah aku bete sama kamu!” sambil kulempar bantal ke arah Oni dan aku bergegas meninggalkannya. Malamnya Oni SMS aku : “Oneng…..kamu marah yach sama aku, maaf dech, jangan ngambek gitu akh…..kayak anak kecil tahu, hemm….ntar cepet tua lho…!” Aku tak membalas SMS oni sama sekali.

Paginya, sepulang sekolah Oni meminta aku tuk menemuinya di depan sekolah, aku nggak menghiraukannya sama sekali. Waktu aku pulang ke rumah, tiba-tiba di depan halaman rumahku ada motor Oni, nampaknya Oni sedang asyik bermain PS sama kakak cowokku. Aku pun masuk kamar melewati Oni, dan aku menutuup pintunya keras-keras. Oni pun kaget dan langsung menanyakan aku : “Oneng….kok gitu sich. masih marah yach! keluar donk…..aku minta maaf, pliz….ma’afin aku yach! aku janji deh, nggak kan mengulangi lagi”. Pinta Oni sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku dan memohon aku supaya keluar.

Aku pun membuka pintu untuknya : “Hemmmm……(sambil tersenyum lebar) ngapain sih datang ke rumah segala, lagian aku nggak marah lagi sama kamu, aku cuma pengen kamu itu sadar!”

“Owh….ya deh, thanks yach Onengku cayank, hemmm….gemes dech sama pipi kamu yang tembem” sambil kedua tangan Oni mencubit kedua pipiku hingga merah.

“Iiiiiih…….sakit tahu!” kedua tanganku mengelus-elus kedua pipiku. “Udah sana pulang, udah sore ntar ibu kamu nyari’in” aku pun menyuruh Oni segera pulang dan mendorongnya dengan pelan keluar.

“Oke deh…..dadah oneng!” Oni melambaikan tangan padaku.

Tak tahu kenapa, hari demi hari kulewati bersamanya, tiba-tiba aku sering memikirkan Oni, hatiku bertanya “Emmm….Oni memikirkan aku juga nggak yach? Hmmmmmm…” (sambil mengeluh). Stiap kita jaln berdua, temen sekolah pasti ngoment tentang kita.

“Kalian tuh yach….nggak ada pisah-pisahnya, pasti kemana-mana berdua aja” (matanya sambil melirik ke aku dan Oni)

“Ya iya lah……kita kan kakak adik…!” (aku dan Oni serempak menjawabnya)

“Tapi kalo dilihat-liht kayaknya kamu nggak pantes temenan, tapi pantesnya tuh pacar!”

“Hahahahahaha….kalian tuh! “(aku sambil tertawa)

Wajah Oni pun berbah menjadi merah dan terlihat malu, karena ledekan dari teman-temannya. Hatiku berkata : “Emmmmm…tapi bukannya orang yang kalo lagi malu itu tandanya mau?” (sambil aku senyum-senym sendiri menghadap ke wajah Oni)

“Kenapa, Neng …..aneh deh, senyum-senyum sendiri kayak orang gila”. (sambil nyenggol pundak aku)

“Enak aja kamu, orang aku lagi nglamun kok” (aku berubah jadi salah tingkah)

Oya, aku dan Oni selalu maen ke tempat favorit kita, yaitu taman cinta. Tempat itu adalah kisah-kisah persahabatanku dengan Oni menghabiskan waktu bersamanya. Kalau kita lagi bete atau senang, kita selalu datang ke taman cinta. Kita bisa berbagi canda dan tawa, dan lainnya.

Setiap malam aku senantiasa berdo’a meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa supaya aku dan Onni awet bersahabat, tapi doaku menjadi lain. Aku berdo’a “Oh….Tuhan ….Aku ingin Oni selalu ada buatku, karena bagiku Oni adalah penerang hidupkuk, aku tak ingin jika harus kehilangan dia, Tuhan….aku ingin dia tahu perasaanku sekarang, aku menyukainya, rasanya aku belum tenang jika dia belum tahu isi hati aku ke dia”.

Aku sudah nggak tahan lagi dengan perasaanku ini kepadanya, dan akupun memutuskan jalan yang terbaik, agar aku tenang, dan agar dia tahu bahwa aku menyukainya.

Sore itu, aku menyuruh Oni untuk datang ke taman cinta. Aku menunggunya sambil duduk manis dan membuka laptop, bermain game. Kalau nanti dia toh datang aku akan bilang ke dia sama perasaanku yang sudah lam ku pendam, dan semoga dia menjawab pertanyaanku. Tak  lama kemudian hujan pun mengguyur taman. Aku kehujanan, tapi sudah satu jam lebih Oni belum juga datang kemari, aku tetap saja duduk di taman, biarpun kehujanan dan sakit, asal aku bisa ketemu Oni sore ini juga. Aku tak tahu kalau Oni tidak datang ke taman, matahari pun telah terlelah dan berganti menjadi gelap. Akhirnya aku pulang, dengan bersin-bersin dan flu. Sampai di rumah, Oni SMS  : “Neng, maaf yach…..tadi sore aku nggak bisa datang ke taman, karena Nindy sakit, dan aku diminta menjaganya”. Nindy adalah adik Oni yang mempunyai penyakit Thypus. Aku tak sempat membalas SMS dari Oni, karena aku sakit dan badanku mengigil.

Tak lama kemudian, Oni datang ke rumahku. “Oneng…..!” (dia mengetuk pintu kamarku, lalu dia masuk disuruh ibuku)

“Neng, kamu kenapa!? Sakit? Kenapa sampae kayak gini sich?” (tangannya memegang kepalaku)

“Nggak apa-apa kok Ni!” (aku berbisik lirih kepada Oni)

“Kasihan banget sich kamu, udah minum obat belum!”

“Udah kok”

“Emmmm…..sebenarnya Oneng mau ngomong apa sich? Sekarang aja ngomongnya!” (dia menyuruhku untuk berbicara kepadanya)

Tak tahu kenapa jantungku terasa berdebar-debar dengan kencang, aku mengularkan keringat di wajahku.

“Kok, kamu jadi takut gitu? (Oni menatapku dengan tajam), mau ngomong apa Neng?”

“Sebenarnya aku mau bilang ke kamu …..”(sambil gregetan)

“Bilang apa?”

“Emm…..bilang, kalo aku suka sama kamu!” (keningku berkerut)

“Ha…..Ha…..Hahaha…suka!” (tertawa seperti oneng sedang bercanda)

“Kok kamu malah ketawa sich, nggak ada yang lucu kali, aku serius Ni, aku serius…!” (aku yakinkan hati Oni)

“Apa?  Kamu beneran serius suka sama aku?” (dia menatap wajahku dengan penuh keyakinan)

“Ya…..tapi kalo kamu nggak suka, aku juga nggak apa-apa kok, kita kan masih bisa berteman!”

“Emmmm….nggak apa-apa lagi Neng, sebenarnya ya aku suka sama kamu, tapi aku takut kalau nanti akhirnya kamu tidak mau, dan kamu meninggalkanku!” (memasang wajah susah dan cemas)

“Ni, sebenarnya aku nggak suka dan aku marah kalau kamu cerita tentang cewek yang kamu sukai itu, kamu cerita ke aku, aku jealous tahu!”(wajahku sambil kesal dengan menatap serius wajah Oni)

“Oh…gitu yach Neng? aku juga gitu, waktu kamu marah sama aku sich, sebenarnya aku nggak mau dengar kamu ngomong cowok itu didepanku, aku juga jealous Neng!” (memegang kedua tanganku)

“Trus, gimana dong sekarang status kita ini? Apa kita ini akan tetap menjadi sahabat?” (aku tatap cemas wajah Oni)

“Oya, aku nggak mau jadi sahabat kamu lagi akh…!”

“Lho kok gitu sich?”

“Mungkin, sekarang kita lebih baik lebih dari sahabat aja? (meyakinkan hatiku) Mau nggak?”

“Mau donk…..!” (aku tersenyum lebar)

“Gitu donk!” (dia memelukku)

Dan akhirnya aku dan Oni kini selalu bersama bahagia, “Hemmm….aku udah lega deh sekarang, akhirnya sahabatku jadi cintaku!” (bisikku dalam hati)


Oleh : Indriani Pratiwi, X.3/ SMA Al-Irsyad Tegal/ Tahun Pelajaran 2009/2010