menunavigasihorisontal

Gambar Bergerak

Header

Header

Selasa, 01 Maret 2011

Menerapkan 7 Kebiasaan Efektif di Sekolah

Stephen Covey, setelah menyihir dunia dengan 7 Kebiasaan Manusia yang sangat Efektif, tahun 2009 ini kembali menelurkan satu karya yang cukup spektakuler: The Leader in Me. Buku ini bercerita tentang kisah sukses sekolah mengembangkan bakat dan potensi anak didik melalui pembiasaan dan pembudayaan 7 kebiasaan efektif di sekolah.

Upaya meningkatkan efektivitas dan produktivitas hidup ini perlu pembiasaan sejak dini, sehingga bisa menjadi budaya yang akan dibawa anak-anak saat mereka dewasa. Hingga pada saatnya nanti, mereka sudah siap menjadi pemimpin di masa mendatang. Pertanyaannya kemudian, mungkinkah kepemimpinan bisa diajarkan dan dididik sejak kecil di sekolah?

Cerita sukses dimulai dari Kepala Sekolah Sekolah Dasar A.B. Combs di Carolina. Saat bertemu Covey di sebuah seminar, mereka mencanangkan untuk mengembangkan 7 kebiasaan di sekolah. Pekerjaan dimulai dengan melakukan penelitian terhadap stakeholder sekolah apa saja yang mereka inginkan dari lulusan sebuah sekolah. Dimulai dari orang tua, Pemerintah, hingga kalangan bisnis. Yang menarik, baik dari orang tua maupun kalangan bisnis menginginkan lulusan sekolah memiliki berbagai kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan di masa mendatang, tidak hanya prestasi akademis.

Keterampilan hidup ini mulai dari bagaimana mereka bertanggung jawab, bergaul dan bekerjasama dengan orang lain, memecahkan masalah, mempunyai motivasi dan etos kerja yang kuat, mempunyai kesadaran untuk terus mengembangkan diri, dan belajar menjadi kreatif.

Program pengembangan kepemimpinan yang diterapkan bukanlah sebuah “kurikulum baru” dengan menambahkan satu pelajaran khusus yang bertema kepemimpinan dan kebiasaan efektif, tetapi program ini dijalankan pada semua mata pelajaran dan proses belajar mengajar di sekolah.

Untuk memahamkan kebiasaan “Menjadi Proaktif” misalnya, dalam pelajaran Bahasa, setiap anak diminta membaca novel, kemudian diminta untuk berimajinasi seandainya setiap tokoh bersifat pro aktif, apa yang akan terjadi kemudian. Masing-masing orang diajak untuk mulai merespons sesuatu secara positif. Semua orang diminta mencatat secara rapih target-target yang harus mereka capai dalam kurun beberapa waktu ke depan, sesuai dengan prinsip “Mulai dengan Tujuan Akhir”.

Target-target itu menyangkut juga bagaimana menjadi warga sekolah yang baik, dan apa yang bisa dikontribusikan kepada sekolah. Target-target ini secara berkala diperiksa mana yang sudah tercapai dan mana yang belum tercapai. Selanjutnya, setiap murid mulai diajarkan berpikir dan bertindak bagaimana menentukan prioritas hidup agar mereka bisa mencapai apa yang mereka cita-citakan. Mereka belajar mendahulukan yang utama (First Thing First), hal-hal yang penting dan relevan dalam kehidupan mereka.

Karena sekolah juga mempunyai visi dan target, masing-masing murid berusaha mengaitkan target pribadi mereka dengan target sekolah. Sistem di sekolah juga membantu mereka untuk menjadi orang-orang yang merasa dihargai dengan kemampuan mereka masing-masing. Semua orang bekerja sama, bergembira, tidak ada yang merasa dikalahkan, karena prinsip solusi menang-menang (win-win solution) yang mereka kembangkan.

Jika ada yang bertengkar atau berkelahi di kelas, para siswa diajarkan untuk tidak terlebih dahulu menyalahkan orang lain. Mereka diajarkan untuk ber-empati, mendengarkan terlebih dahulu apa yang terjadi sebelum menyalahkan, sehingga persoalannya menjadi lebih mudah untuk diselesaikan. Murid-murid juga diajarkan untuk bekerja sama, bersinergi, membangun kekuatan untuk bersama-sama mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Setiap orang bisa memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, itulah yang disebut sebagai prinsip “sinergi”. Dan terakhir, tentu saja setiap orang sangat senang untuk belajar dan meningkatkan keterampilan yang mereka miliki dengan prinsip “mengasah gergaji” (sharpening the saw).

Anak-anak akan senang berolah raga untuk menjaga kebugaran, saling berkenalan satu dengan yang lain, dan selalu berlatih agar keterampilan dan kemampuan yang mereka miliki tidak habis bahkan terus berkembang. Akan lebih mudah memahami buku ini apabila sudah membaca karya-karya Covey terdahulu seperti “7 Kebiasaan Yang Sangat Efektif”, atau “8 Kebiasaan yang Sangat Efektif”, dan juga karya anaknya Covey, Sean Covey, “7 Kebiasaan Efektif untuk Remaja”. Karena berdasarkan prinsip-prinsip itulah, pembiasaan ini dilakukan di sekolah.

Buku ini mengajarkan bahwa setiap pribadi mempunyai keunikan dan bakat tertentu, di mana tugas guru, sekolah, dan orang tua untuk mengenali bakatnya masing-masing. Jangan buru-buru memberikan label “anak nakal, anak tak tahu diuntung, anak bodoh, anak pemalas”, dan berbagai label negatif lain. Mungkin saja, bakat terpendam itu memang harus digali terlebih dahulu, karena emas sekalipun terpendam dalam lumpur yang sangat kotor. Jangan sampai kita menyesal karena telah mematikan bakat dan potensi anak-anak kita. Bukan karena kita sengaja, tapi karena ketidaktahuan kita..