• Integer vitae nulla! GEDUNG 1 SMA AL-IRSYAD TEGAL

    Gedung SMA AL-IRSYAD TEGAL campus 1 yg megah dengan bangunan 3 lantai didalamnya serta vasilitas asri dan lengkap...

  • Suspendisse neque tellus PENGIBARAN BENDERA MERAH PUTIH

    Upacara hari senin bertepatan dengan hari kartini

  • Suspendisse neque tellus UPACARA MINGGUAN

    Seluruh siswa-siswi sma al-irsyad tegal melaksanakan upacara hari senin pagi

  • Curabitur faucibus PARA PENGAJAR dI SMA AL-IRSYAD TEGAL

    seluruh pengajar sma al-irsayd tegal sedang berforse di depan gedung 2

Minggu, 05 Februari 2012

Syarat 24 Jam Mengajar Untuk Guru Lulus Sertifikasi Berdampak Buruk Bagi Sekolah Swasta

Program sertifikasi guru yang sampai sekarang masih terus bergulir dan diharapkan bisa mendongkrak mutu Pendidikkan Nasional, ternyata berdampak negatif bagi sekolah swasta. Betapa tidak, syarat minimal 24 jam mengajar bagi guru bersertifikat membuat sekolah-sekolah swasta kekurangan peserta didik 30-40 %, hal ini dialamai oleh sekolah-sekolah swasta di kota Tegal dan tidak menutup kemungkinan di daerah lain pun demikian, sehingga para guru di sekolah swasta kesulitan untuk mendapatkan jumlah 24 jam mengajar. 

Dampak kekurangan peserta didik pada sekolah swasta nota bene karena  sekolah-sekolah negeri rata-rata menambah kelas baru atau menambah rombongan belajar kelas menjadi kelas yang sangat gemuk yang nanti dikelas berikutnya dipecah supaya jumlah kelasnya banyak, strategi ini terpaksa dilakukan oleh sekolah sekolah negeri supaya guru-guru yang sudah lulus sertifikasi memperoleh minimal 24 jam mengajar. Alasan tersebut sangat rasional dan lumrah sebab jika tidak demikian mereka banyak yang tidak memenuhi syarat minimal 24 jam mengajar yang nota bene jika tidak mengajar minimal 24 jam tidak akan mendapatkan uang tunjangan guru sertifikasi.

Akibat situasi tersebut guru-guru sekolah swasta kebanyakan jangankan mendapat 24 jam mengajar dan mendapatkan tunjangan, untuk mempertahankan keberadaan sekolahnya saja akan kesulitan. Isu ini sangat meresahkan sekolah-sekolah swasta, jika isu ini benar maka Dinas Pendidikkan harus segera mencarikan solusinya.



Mengingat keberadaan sekolah swasta yang juga punya andil besar membantu program Pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, maka Pemerintah harus segera mencari solusi, mengurangi syarat 24 jam mengajar misalnya menjadi 16 atau 14 jam atau yang tidak menjadikan guru berselisih berebut jumlah jam mengajar. Solusi lain yang bisa dilakukan dan lebih bijaksana seluruh guru yang lulus sertifikasi berapapun jumlah jam mengajarnya berhak mendapatkan tunjangan sertifikasi dari Pemerintah, tentunya dengan jumlah rupiah yang berbeda sesuai jumlah jam mengajarnya.

Misalnya; Kelompok A dengan jumlah mengajar 24 jam keatas berhak mendapat tunjangan sekian, Kelompok B dengan jumlah mengajar 18-22 jam mendapatkan tunjangannya lebih kecil sekian prosen dari kelompok A, Kelompok C dengan jumlah mengajar 10-16 jam mendapatkan tunjangannya lebih kecil sekian prosen dari kelompok B, dan Kelompok D dengan jumlah jam mengajar 8 jam kebawah mendapatkan tunjangan lebih kecil sekian prosen dari kelompok C. Cara yang kedua memang lebih rumit karena tiap tahun pelajaran, jumlah jam setiap guru berubah-ubah, tetapi itulah salah satu solusi yang dianggap bijaksana.

Jika Pemerintah merasa terbantu dengan adanya sekolah-sekolah swasta dan benar-benar ingin memelihara eksistensi sekolah-sekolah swasta, ingin mensejahterakan guru-guru sekolah swasta, ingin menciptakan kebersamaan dan pemerataan dikalangan kaum Pendidik, maka segera mengambil kebijakan baru yang berpihak kepada seluruh kaum Pendidik. Jangan biarkan sekolah-sekolah swasta satu demi satu gulung tikar karena Pemerintah sendiri belum mampu menampung seluruh anak bangsa bersekolah di sekolah negeri.



Oleh: Drs. Muhammad Abduh Aljihad
*) Penulis adalah Guru SMA AL-IRSYAD Tegal

4 komentar:

  1. terkadang memang seperti itu-kaaah ...

    BalasHapus
  2. kalo kita bandingkan di kota-kota besar sekolah negeri itu menjadi ecek-ecek atau dinomerduakan, dan swasta jadi pilihan awal, tapi kalo kita lihat tegal yang terjadi adalah sebaliknya, mengapa..? pertanyaanya bisa kita bercermin pada diri sendiri.. itu smua karena mutu sekolah swasta di tegal lebih rendah di banding negeri.. untuk itu mari kita tingkatkan mutu sekolah swasta kita,mari kita buktikan kalo swasta lebih bermutu sehingga orang-orang akan memasukkan anak-anaknya ke swasta walopun dengan biaya yang mahal mereka tetep berani

    BalasHapus
  3. @elbahri safaniri : akan kesulitan jika kita bandingkan satu persatu tetapi saya masih yakin sekolah negeri dikota-kota besar masih unggul dibandingkan swasta sebut saja SMA 8 Jakarta selatan ia masih unggulan, memang banyak sekolah swasta yang bagus tetapi jika dinilai secara keseluruhan saya masih yakin negeri masih diatas swasta, seperti juga perguruan tinggi sangat banyak PT swasta yang bagus tetapi belum bisa mengalahkan UI, UGM, ITB, IPB dll. masalah berbenah diri dan meningkatkan mutu itu pasti selalu diupayakan. Tentang kekurangan jam mengajar saya yakin di kota-kota besar negeri maupun swasta masih ada guru yang kekurangan yang akhirnya terjadi rekayasa oleh sebab itu pemerintah dalam mengeluarkan kebijakannya harus melihat kondisi dilapangan. contoh lain soal-soal UN dan kriteria/batas nilai kelulusan yang sama itu artinya pemerintah mengeluarkan aturan yang kurang adil, mana mungkin siswa SBI di Jakarta soal UN dan batas nilai kelulusannya disamakan dengan siswa di sekolah ecek-ecek yang ada dipedalaman irian atau kalimantan yang sekolahnya serba terbatas apakah anda mau menyalahkan sekolah ecek-ecek tersebut realistislah....

    BalasHapus
  4. hal yang biasa mungkin bagi saya. setiap pemerintah tentunya mengidamkan warganya menjadi orang2 hebat dan tangguh, tentunya hal ini tidak bisa terealsasikan kalau tidak adanya sesuatu yang anyar. salah satu program nya mungkin diantaranya mengenergikan kembali peran guru sesua dgn kapasitas kelayakan menjadi guru, bukan asal ngajar aja namun bisa mencercaskan anak bangsa. namun disisi lain buat sekolah swasta mestinya ini merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapinya supaya menjadi pribadi yang bukan hanya mengandalkan bangku cadangan siswa setelah tidk diterimanya di sekolah negri. tentunya harus lebih mengedepankan kualitas dan kuuantitas sekolah.

    BalasHapus